Home

23

Dec

SANF Raih Kredit Sindikasi RP 528 M PDF Print E-mail
Written by Administrator   

Sumber Investor Daily di Jakarta, Minggu (13/12) menyebutkan fasilitas pinjaman dengan tenor tiga tahun diberikan untuk perusahaan yang khusus membiayai alat-alat berat atau sewa guna usaha (leasing).

Lima bank asing dan lokal yang yang ikut dalam sindikasi tersebut masing-masing ANZ, Mizuho Corporate Bank,Overseas-Chinese Banking Corporation (OCBC), Standard Chartered Bank (SCB), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pinjaman dipecah menjadi dua bagian, yaitu US$ 40 juta (sekitar Rp 378,8 miliar) dan dalam denominasi rupiah sebesar Rp 150 miliar.

Direktur SCB Dewi R Prawirosaputro mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan penandatanganan pinjaman itu. Namun, dia menolak menyebutkan berapa porsi yang diberikan SCB dalam sindikasi ini.

Terkait penggunaan dana tersebut, Direktur Utama SANF Susilo Sudjono mengatakan, dana itu digunakan untuk pembiayaan alat-alat berat. "Terutama untuk Desember 2009 dan beberapa bulan kedepan," ujar Susilo ketika dihubungi Investor Daily di Jakarta, Senin (14/12).

Sedangkan kisaran bunga yang dikenakan, kata Susilo, sejalan dengan pricing di pasaran. Pada akhir tahun, manajemen optimistis akan mencapai target pembiayaan sekitar Rp 1,4 - 1,45 triliun. Hingga November 2009, total pembiayaan telah mencapai Rp 1,25 triliun.

Dengan adanya kucuran dana segar, manajemen menargetkan pertumbuhan pembiayaan tahun depan dapat mencapai Rp 1,7 triliun atau naik 20-25%. Susilo menambahkan, target tersebut masih fleksibel.

"Kami akan melihat perkembangan kira-kira sampai kuartal I-2010, apakah keadaan membaik. Jika kondisi bagus, kami akan mervisi target," ujar dia.

Laba Naik
Tahun lalu, total pembiayaan yang diberikan perusahaan mencapai Rp 1,9 triliun. Sedangkan, penurunan pembiayaan pada tahun ini diakuinya berdampak pada penurunan aset per November 2009, meskipun nilainya tidak jauh beda dengan tahun lalu, yaitu sebesar Rp 2,5 triliun.

Perusahaan mencatat keniakan laba bersih sebesar Rp 70 miliar atau naik 49% dari bulan yang sama tahun lalu sebesar Rp 47 miliar. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih terkendali, yaitu sekitar 0,02 - 0,1%.

"NPL kami terjaga dengan baik karena perusahaan telah memiliki pengalaman selama 15 tahun dalam pembiayaan alat berat. Hubungan baik sudah terjalin dengan nasabah, sehingga kami harus menerapkan aspek kehati-hatian," kata Susilo.

Prospek 2010
Perusahaan pembiayaan alat-alat berat untuk pertambangan batubara, timah, mika, perkebunan kelapa sawit, dan industri kehutanan (forestry) terutama pabrik bubur kertas. Lokasi operasional alat-alat berat itu terkonsentrasi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Susilo optimistis pembiayaan alat berat akan lebih baik tahun depan dibandingkan 2007-2008. Sebab tahun depan akan ditopang oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi secara global dan lokal serta dampaknya pada perbaikan harga-harga dan permintaan komoditas.

"Di Amerika Serikat, Tiongkok, India, dan Indonesia, permintaan komoditas seperti kelapa sawit, batu bara,minyak bumi, bahan-bahan nabati seperti kedelai, dan lain-lain diprediksi meningkat. Terutama kelapa sawit, karena minyak nabati adalah komoditas yang masih laris," tutur Susilo.

Sebesar 60% saham SANF dikuasai oleh PT Sedaya Multi Investama (SMI), yang merupakan anak perusahaan PT Astra Internasional Tbk. Sedangkan sisanya dimiliki oleh Marubeni Corporation.

Last Updated on Wednesday, 23 December 2009 16:59
 
Banner

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday17
mod_vvisit_counterYesterday595
mod_vvisit_counterThis week1366
mod_vvisit_counterLast week1994
mod_vvisit_counterThis month2372
mod_vvisit_counterLast month10569
mod_vvisit_counterAll days475662

We have: 1 guests, 6 bots online
 , 
Today: Feb 08, 2012