Kebijakan wajib pasok batubara ke dalam negeri menolong bisnis pembiayaan alat berat
Setelah sempat seret di awal tahun, belakangan pembiayaan sewa guna usaha (leasing) alat berat mulai menunjukkan tanda-tanda naik. Banyak perusahaan tambang dan perkebunan yang ekspansi sehingga permintaan alat berat meningkat.
Data Bank Indonesia (BI) pada Januari 2010 lalu, total nilai pembiayaan sewa guna usaha yang sebagian besar untuk pengadaan kredit alat berat mencapai Rp 47 triliun. Padahal setahun sebelumnya mencapai Rp 52 triliun. Perbandingan posisi pembiayaan tersebut menunjukkan sebagian pembiayaan yang lama sudah lunas, tapi tidak disertai pengucuran pembiayaan baru.
April lalu total pembiayaan sewa guna usaha hanya Rp 45,9 triliun. Dibandingkan posisi April 2009 yang sebesar Rp 47 triliun, berarti tetap ada penurunan 4,3%.
Ada beberapa faktor yang membuat pembiayaan alat berat seret di awal-awal tahun. Pertama, banyak perusahaan pengguna alat berat di sektor pertambangan, konstruksi, dan perkebunan baru melakukan ekspansi besar-besaran di semester kedua. Kedua, perusahaan pengguna alat berat ini baru melakukan investasi peralatan maksimal tiga bulan sebelum ekspansi berjalan. Alhasil, permintaan pembiayaan alat berat baru menggeliat pada kuartal kedua.
Mulai Meningkat
Kendati sempat seret, dalam catatan APPI, banyak perusahaan pertambangan dan perkebunan akan melangsungkan ekspansi usaha dengan membuka lahan baru. Pembukaan lahan baru ini bakal mengerek permintaan alat berat. Selain di Sumatra dan Kalimantan, ekspansi lahan juga merambah wilayah Indonesia bagian Timur.
Khusus di sektor pertambangan, ekspansi lahan dipicu kebijakan pemerintah yang menetapkan domestic market obligation (DMO) batubara. Kebijakan itu mewajibkan perusahaan tambang menjual 30% hasil produksinya ke pasar dalam negeri.
Menghadapi kebijakan DMO itu, pengusaha terpaksa meningkatkan kapasitas produksinya. Pilihan itu diambil agar tidak mengurangi jumlah ekspor. Akibatnya, rencana produksi batubara yang semula sebanyak 250 juta ton, diperkirakan naik menjadi 280 juta ton tahun ini.
Padahal untuk memproduksi batubara sebanyak 1 juta ton per tahun, diperlukan investasi pembelian alat berat hingga US$ 10 juta (setara sekitar Rp 90 miliar). Nah, kalau produksi batubara tahun ini naik hingga 280 juta ton, berarti dibutuhkan investasi peralatan baru minimal Rp 2,7 triliun.
Maraknya ekspansi tahun ini mulai mendatangkan berkah bagi multifinance. Kinerja PT. Surya Artha Nusantara Finance (SAN Finance), sekedar ilustrasi, menjelang semester kedua tahun ini kinerja SAN Finance mulai tumbuh lumayan.
Per Mei 2010, total pembiayaan alat berat perusahaan yang sahamnya dikuasai oleh PT. Sedaya Multi Investama dan Marubeni Corporation ini sudah mencapai Rp 1 triliun alias tumbuh 66% dibandingkan Mei 2009 yang hanya 600 miliar.
SAN Finance optimis, sampai akhir tahun 2010 nanti bisa menyalurkan dana senilai Rp 2,2 triliun hingga Rp 2,5 triliun. “Kami yakin target itu tercapai,” menurut Susilo Sudjono, Presiden Direktur SAN Finance.
Tahun lalu memang kurang bersahabat bagi para pebisnis pembiayaan alat berat. Imbas krisis global membuat kegiatan pertambangan dan perkebunan stagnan. Banyak perusahaan menunda ekspansi lahan, sehingga permintaan alat berat menjadi sepi. “Kami akui kinerja semua multifinance alat berat pada tahun 2009 lalu rada terpuruk,” imbuh Susilo Sudjono.
(Sumber : Tabloid Kontan edisi no 33 bulan Juli 2010)
|