|
Surya Artha dapat pinjaman sindikasi US$25 juta
JAKARTA: PT. Surya Artha Nusantara Finance memperoleh pinjaman melalui sindikasi sebesar US$25 juta yang diatur oleh Standard Chartered Bank pada Mei 2007.
Hingga saat ini perusahaan pembiayaan itu mendapat pinjaman dari sejumlah bank swasta, pemerintah dan asing dalam bentuk rupiah dan dolar AS dengan nilai total sebesar Rp510 miliar. Presiden Direktur PT Surya Artha Nusantara Finance Susilo Sudjono menyatakan dengan diperolehnya fasilitas sindikasi ini menunjukkan adanya kpercayaan dari dunia perbankan, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Beberapa bank yang terlibat dalam sindikasi ini, di antaranya Standard Chartered Bank, Mizuho Bank, PT Bank Resona Perdania, dan PT Bank Niaga Tbk.
“Tenor pinjaman ini tiga tahun dan diprediksi bisa ditarik dalam waktu enam bulan.” Tegas Susilo.
Pinjaman dari perbankan termasuk sindikasi sebesar US$25 juta diharapkan mendorong pembiayaan perusahaan yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp1 triliun. Target pembiayaan ini disesuaikan dengan pertumbuhan penjualan alat berat pada 2007 yang meningkat signifikan.
Ekspansi Pada 2007 ini,kata Susilo, perusahaan diharapkan dapat menbukukan sedikitnya Rp1 triliun pembiayaan alat berat dan total asset perusahaan dapat mencapai lebih dari Rp1 triliun di akhir tahun. Per posisi Mei 2007, Surya Artha berhasil merealisasikan pembiayaan hingga Rp436 miliar. Pada semester kedua 2007, kata Susilo perusahaan akan membuka satu lagi cabang di Makassar untuk melayani pembiayaan alat berat di kawasan Indonesia Timur. Di wilayah ini, permintaan pembiayaan alat berat diprediksi mengalami kenaikan, terkait pesatnya industri kelapa sawit maupun kehutanan. Saat ini, Surya Artha memiliki delapan cabang di Medan, Pekanbaru, Palembang, Surabaya, Pontianak, Balikapapan, Samarinda, dan Banjarmasin. Cabang-cabang ini didirikan dengan dasar untuk melayani daerah-daerah, dimana penjualan alat beratnya cukup besar. Bisnis inti perusahaan ini adalah pembiayaan alat berat untuk produk-produk Komatsu dan merek lainnya. Saat ini, kata Susilo, penjualan alat berat di Indonesia sangat meningkat dikarenakan pertumbuhan terutama di segmen industri agrobisnis, pertambangan, kehutanan, konstruksi dan transportasi. Sebelumnya, Susilo menegaskan perseroan juga akan meningkatkan pembiayaan di bidang konstruksi pada tahun ini menyusul rencana digelarnya proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Terkait obligasi sebagai salah satu sumber pendanaan, Susilo mengatakan SAN finance berencana mengeluarkan surat utang itu pada 2008.
(Sumber: Bisnis Indonesia, Selasa 5 Juni 2007) |