Pada tanggal 21 April 2011, Perusahaan telah mengadakan RUPST untuk tahun buku 2010 yang salah satu agendanya adalah melakukan perubahan susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan. Adapun susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan yang baru adalah sebagai berikut:
DIREKSI:
DEWAN KOMISARIS:
Perusahaan mendapatkan fasilitas kredit dalam bentuk Club Deal senilai USD 145 juta dari PT ANZ Panin Bank, PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk., The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Jakarta Branch, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Singapore, Mizuho Corporate Bank, Ltd., Natixis, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, dimana Mizuho Corporate Bank, Ltd., Singapore Branch bertindak sebagai Agen dan PT Bank Mizuho Indonesia bertindak sebagai Agen Jaminan.
Bencana adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan ini, baik karena faktor alam maupun akibat perbuatan manusia itu sendiri. Bencana tetap dapat terjadi kapan saja sehingga tidak ada suatu kepastian. Oleh karena itu, untuk antisipasi dan meminimalkan dampak negatif dari terjadinya suatu bencana terhadap perusahaan, khususnya dalam rangka menjalankan bisnis sehari-hari, maka diperlukan adanya suatu proses mitigasi yang lebih dikenal dengan nama “Business Continuity Plan (BCP)”.

Sejak akhir tahun 2010, PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF) bekerjasama dengan PT Astra International Tbk (AI) melalui Divisi Manajemen Resiko AI, telah menjalankan proyek BCP ini. Acara penutupan proyek BCP ini ditandai dengan penyerahan secara simbolis manual book BCP dari Bapak Daniel Phua selaku AI Risk Management Division Head kepada Ibu Diana Makmur selaku Presiden Direktur SANF pada tanggal 24 Juni 2011. Implementasi BCP ini sendiri direncanakan selesai pada akhir tahun 2011 ini.
Dalam rangka penerbitan Obligasi SAN Finance I Tahun 2011 sebesar Rp 600 Miliar dan untuk memenuhi ketentuan berdasarkan Keputusan Ketua BAPEPAM No. Kep-29/PM/2004 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit tanggal 24 September 2004, maka perusahaan membentuk Komite Audit melalui keputusan Dewan Komisaris yang efektif berlaku tanggal 1 Juni 2011.
Adapun susunan Komite Audit perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Bp. Inget Sembiring : Ketua Komite Audit
2. Bp. Kanaka Puradiredja : Anggota Komite Audit
3. Bp. Thomas H. Secokusumo : Anggota Komite Audit
Jakarta - PT Surya Artha Nusantara Finance (SAN Finance) tawarkan obligasi senilai Rp 600 Miliar dengan tingkat bunga antara 7,7%-9,3%. Dana hasil penerbitan surat utang ini akan digunakan untuk modal kerja perseroan dalam rangka menggenjot pembiayaan.
Seperti dikutip dari prospektus ringkas yang diterbitkan perseroan di Jakarta, Selasa (18/1/2011), obligasi ini diterbitkan dalam tiga seri, masing-masing seri berjangka waktu satu tahun, dua tahun dan tiga tahun.
Obligasi seri A senilai Rp 105 Miliar dengan jangka waktu 1 tahun, suku bunga yang ditawarkan sebesar 7,7%. Sementara obligasi seri B bernilai 101 Miliar berjangka waktu 2 tahun ditawarkan dengan bunga 8,9%.
Sedangkan obligasi yang terakhir, seri C dengan jangka waktu 3 tahun senilai Rp 394 Miliar dipatok dengan bunga 9,3%
Perseroan telah memperoleh hasil pemeringkatan dari Pefindo dengan peringkat A. Berperan sebagai penjamin emisi dalam aksi korporasi ini adalah PT NISP Sekuritas, dengan wali amanat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
Perseroan sudah mendapat pernyataan efektif pada tanggal 17 Januari 2011 dan dilanjutkan ke masa penawaran pada 19-20 Januari 2011. Setelah itu masa penjatahan akan dilakukan pada 21 Januari 2011 dan distribusi secara elektronik pada 25 Januari 2011.
Obligasi ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 Januari 2011.
(Sumber : www.detikfinance.com)
JAKARTA: PT Surya Artha Nusantara Finance (SAN Finance) membukukan pembiayaan sewa guna usaha alat berat pada 2010 mencapai Rp. 3,1 triliun, melebihi target awal yang ditetapkan pada awal tahun, Rp 1,7 triliun.
Dirut SAN Finance Susilo Sudjono mengatakan pencapaian tersebut seiring dengan kondisi pasar komoditas yang baik dan tingginya permintaan mendorong pembiayaan perseroan menembus Rp 3,1 triliun.
“Pertumbuhan pembiayaan khususnya leasing atau sewa guna usaha begitu signifikan tahun lalu karena pengaruh pertumbuhan dari pasar komoditas juga,” katanya, hari ini.
Perseroan memfokuskan penyaluran pembiayaan pada segmen leasing alat berat dengan konsumen sejumlah korporasi baik dari sektor komoditas pertambangan, perkebunan dan infrastruktur.
Saham perseroan dimiliki oleh PT Astra International Tbk sebesar 60% melalui anak perusahaannya yakni PT Sedaya Multi lnvestama, sisanya dikuasai oleh Marubeni Corporation Jepang sebesar 35% dan 5% saham dikuasai oleh PT Marubeni Indonesia
Pada 2009, pembiayaan sewa guna usaha alat berat (leasing) baru mencapai Rp 1,4 triliun atau turun dari 2008 Rp 1,9 triliun pada 2008. SAN Finance memperoleh lisensi untuk beroperasi sebagai perusahaan pembiayaan yang bergerak pada sektor sewa guna usaha dari Kementerian Keuangan sejak 1985.
(Sumber : www.bisnis.com, 28 Februari 2011)
Bisnis penyaluran alat berat akan makin memanas tahun ini. Diprediksikan penyaluran pembiayaan tahun ini pasti akan meningkat. Kalangan industri pembiayaan alat berat memperkirakan peningkatan berkisar pada angka 15% hingga 20%.
Presiden Direktur SAN Finance menjelaskan, bahwa sepanjang Januari hingga Februari 2011, mereka telah menyalurkan sebesar Rp 763 miliar. Tumbuh sebesar 126,4% dari perolehan di periode yang sama pada 2010. Sementara itu total alat berat yang telah disalurkan berjumlah 615 unit.
Di Januari 2011 sendiri SAN Finance telah menyalurkan sebesar Rp 351 miliar. Naik 85,71% dibanding pembiayaan di Januari 2010. Total alat berat yang telah disalurkan berjumlah 295 unit.
Adapun, di Februari 2011, SAN Finance telah menyalurkan sebesar Rp 412 miliar, atau naik 178,37% dibanding pembiayaan di 2010. Total alat berat yang telah disalurkan berjumlah 320 unit.
Targetnya di tahun ini mereka akan menyalurkan pembiayaan hingga mencapai Rp 3,6 triliun, atau naik 16,12% dibanding total penyaluran di 2010 yang mencapai Rp 3,1 triliun.
(Sumber : www.kontan.co.id; 7 Maret 2011)
Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan bisnis pembiayaan alat berat yang masuk dalam kegiatan sewa guna usaha (leasing)-trennya memang meningkat. Per Mei 2007, leasing tumbuh signifikan, yaitu 27,35% dari Rp 18,27 triliun menjadi Rp 31,82 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Secara umum, potensi pembiayaan alat berat sangat menjanjikan. Memang, tahun lalu, bisnis ini hanya jalan di tempat. Penyebabnya adalah naiknya harga bahan baker minyak (BBM) pada Oktober 2005 dan naiknya suku bunga. Hal itu telah mengakibatkan daya beli masyarakat jatuh dan banyak produsen berhenti memproduksi alat berat. Berdasarkan alas an itu, permintaan alat berat pada 2007 pun pasti meningkat.
Keyakinan bahwa permintaan alat berat pada tahun ini meningkat didukung data peningkatan pembiayaan yang terjadi di IBF dan Surya Artha Nusantara Finance (SAN Finance). “Pada semester kedua tahun ini, SAN Finance mengalami lonjakan permintaan yang signifikan,” aku Susilo Sudjono, Presiden Direktur SAN Finance.
Masih menurut Susilo, pasar perkebunan dan pertambangan bakal memicu kenaikan permintaan kredit. Indikasinya mulai terlihat di SAN Finance. Pada semester pertama tahun ini, SAN Finance telah berhasil mengucurkan kredit ke sector ini Rp 530 miliar atau melewati separuh target akhir tahun yang dipatok Rp 1 triliun. “Makanya kami merevisi target kami sebesar Rp 200 miliar atau naik 20% menjadi Rp 1,2 triliun,” imbuh Susilo.
( Sumber: Majalah InfoBank no.341 edisi Agustus 2007 p.88-89)
Secara umum, SAN Finance menjalankan bisnisnya dengan tiga dasar. Satu, segmentasi customer yang benar. Dua, dukungan internal proses. Tiga, membina relationship dengan dealer dan customer secara berkesinambungan. Tapi menurut Susilo Sudjono, Direktur Utama SAN Finance, yang terpenting untuk berlangsungnya kegiatan perusahaan pembiayaan adalah pertumbuhan makro-ekonomi yang positif, stabilnya nilai mata uang, dan tersedianya pendanaan di pasar.
Dalam mengatasi persaingan, SAN Finance mengutamakan pelayanan yang berbeda (unique), terutama dalam hal solution, speed of service, dan flexibility. Hal ini dapat terealisasi jika didukung relationship yang telah terbentuk antara perusahaan, dealer, dan customer.
SAN Finance berusaha mencari cost of fund yang kompetitif dengan melakukan diversifikasi, baik melalui pendanaan offshore maupun onshore.
( Sumber: Majalah InfoBank no.341 edisi Agustus 2007 p.31)
Berdasarkan kajian kinerja keuangan multifinance yang diadakan oleh Biro Riset InfoBank yang disajikan dalam “Rating 137 Multifinance Versi InfoBank 2007”, PT. Surya Artha Nusantara Finance menduduki peringkat ke-5 dalam kategori perusahan permbiayaan breaset Rp 100 miliar s.d. di bawah Rp 1 triliun dengan predikat “Sangat Bagus”.
(Sumber: Majalah InfoBank no.341 edisi Agustus 2007 p.18)
JAKARTA: PT Surya Artha Nusantara Finance (SAN) Finance menargetkan untuk membiayai peralatan berat senilai Rp1 triliun pada 2007 atau meningkat 135% dibandingkan akhir tahun lalu Rp 425 miliar.
Presiden direktur SAN Finance Susilo Sudjono mengatakan membaiknya sektor perkebunan dan pertambangan tahun ini menjadi salah satu faktor penunjang meningkatnya pembiayaan sewa guna usaha peralatan berat.
Selain itu, lanjut dia, penurunan suku bunga Bank Indonesia di level 9% juga berpengaruh pada bunga yang ditawarkan ke nasabah dalam bisnis pembiayaan alat-alat berat.
“tentu saja itu berpengaruh.
Saat ini kami menurunkan bunga pinjaman di level 14,5%-17,5%. Bisnis ini tidak mudah. Kami juga harus mengetahui alat berat itu seperti apa, siapa yang menjadi nasabahnya.” ujar Susilo Sudjono kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.
SAN Finance adalah perusahaan yang bergerak di bidang sewa guna usaha peralatan berat. Komposisi pemilik saham perseroan itu terdiri dari PT. Astra International Tbk (60%) dan Marubeni Corporation (40%).
Perseroan itu lebih banyak membiayai peralatan yang digunakan untuk proyek perkebunan (37,5%) dan pertambangan (35,8%) serta untuk sektor kehutanan (19,6%) dan konstruksi 6,8%.
Susilo mengatakan perseroan juga akan meningkatkan pembiayaan di bidang konstruksi pada tahun ini menyusul rencana digelarnya proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.
Dibandingkan bidang perkebunan dan pertambangan, dia mengungkapkan, sektor konstruksi memiliki resiko yang lebih minim.
Untuk sumber dana perseroan, dia memaparkan, SAN Finance telah mendapat pinjaman dari lima bank ditambah penggunaan mekanisme private placement. “Jumlah semuanya mencapai Rp600 miliar, termasuk private placement di dalamnya senilai Rp50 miliar.”
Private placement adalah penawaran saham institusional terbatas kepada badan usaha lain dan merupakan kebalikan dari initial public offering (IPO). Mekanisme itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 84/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan.
Lebih lanjut Susilo menjelaskan kini pihaknya tengah menjajaki pinjaman yang akan diberikan oleh sindikasi bank asing dan local senilai US$30 juta. Selain itu, urai dia, pihaknya juga akan bekerja sama dengan bank local dalam bentuk pinjaman bilateral senilai Rp350 miliar.
Untuk penerbitan obligasi, lanjut dia, SAN Finance berencana mengeluarkan surat utang itu pada 2008. Menurut Susilo obligasi biasanya digunakan untuk diversifikasi dana perusahaan pembiayaan dan menghindari mismatch.
Terkait pembiayaan alat berat, Direktur SAN Finance Keke Hadi menjelaskan pihaknya sangat berhati-hati dalam menetapkan calon nasabah seperti melihat kembali latar belakang nasabah dan alat-alat pendukung perseroan dalam mengerjakan proyek.
“Biasanya kami meminta informasi dari lingkungan bisnis dan bank yang pernah menyalurkan kredit kepada perusahaan yang bersangkutan. Selain itu, kami juga mengecek apakah persoalan ijin sudah lengkap atau tidak dalam pengerjaan proyek.”
( Sumber: Bisnis Indonesia )
JAKARTA: PT. Surya Artha Nusantara Finance memperoleh pinjaman melalui sindikasi sebesar US$25 juta yang diatur oleh Standard Chartered Bank pada Mei 2007.
Hingga saat ini perusahaan pembiayaan itu mendapat pinjaman dari sejumlah bank swasta, pemerintah dan asing dalam bentuk rupiah dan dolar AS dengan nilai total sebesar Rp510 miliar.
Presiden Direktur PT Surya Artha Nusantara Finance Susilo Sudjono menyatakan dengan diperolehnya fasilitas sindikasi ini menunjukkan adanya kpercayaan dari dunia perbankan, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Beberapa bank yang terlibat dalam sindikasi ini, di antaranya Standard Chartered Bank, Mizuho Bank, PT Bank Resona Perdania, dan PT Bank Niaga Tbk.
“Tenor pinjaman ini tiga tahun dan diprediksi bisa ditarik dalam waktu enam bulan.” Tegas Susilo.
Pinjaman dari perbankan termasuk sindikasi sebesar US$25 juta diharapkan mendorong pembiayaan perusahaan yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp1 triliun. Target pembiayaan ini disesuaikan dengan pertumbuhan penjualan alat berat pada 2007 yang meningkat signifikan.
Ekspansi
Pada 2007 ini,kata Susilo, perusahaan diharapkan dapat menbukukan sedikitnya Rp1 triliun pembiayaan alat berat dan total asset perusahaan dapat mencapai lebih dari Rp1 triliun di akhir tahun. Per posisi Mei 2007, Surya Artha berhasil merealisasikan pembiayaan hingga Rp436 miliar.
Pada semester kedua 2007, kata Susilo perusahaan akan membuka satu lagi cabang di Makassar untuk melayani pembiayaan alat berat di kawasan Indonesia Timur. Di wilayah ini, permintaan pembiayaan alat berat diprediksi mengalami kenaikan, terkait pesatnya industri kelapa sawit maupun kehutanan.
Saat ini, Surya Artha memiliki delapan cabang di Medan, Pekanbaru, Palembang, Surabaya, Pontianak, Balikapapan, Samarinda, dan Banjarmasin. Cabang-cabang ini didirikan dengan dasar untuk melayani daerah-daerah, dimana penjualan alat beratnya cukup besar.
Bisnis inti perusahaan ini adalah pembiayaan alat berat untuk produk-produk Komatsu dan merek lainnya. Saat ini, kata Susilo, penjualan alat berat di Indonesia sangat meningkat dikarenakan pertumbuhan terutama di segmen industri agrobisnis, pertambangan, kehutanan, konstruksi dan transportasi.
Sebelumnya, Susilo menegaskan perseroan juga akan meningkatkan pembiayaan di bidang konstruksi pada tahun ini menyusul rencana digelarnya proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.
Terkait obligasi sebagai salah satu sumber pendanaan, Susilo mengatakan SAN finance berencana mengeluarkan surat utang itu pada 2008.
(Sumber: Bisnis Indonesia, Selasa 5 Juni 2007)






![]() | Today | 3 |
![]() | Yesterday | 595 |
![]() | This week | 1352 |
![]() | Last week | 1994 |
![]() | This month | 2358 |
![]() | Last month | 10569 |
![]() | All days | 475648 |